Teladan ‘tulis, baca, dan bahasa’ dari Bunda Kartini

Images : Kabarnesia

Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini (wikipedia.com). banyak kontroversi mengenai Kartini yang dianggap terlalu berlebihan dengan didakan hari khusus untuk memperingatinya.

Dahulu saya pun berfikir demikian, mengapa Kartini? Kok bukan tokoh wanita lain seperti Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Safiatuddin Johan dan pahlawan daerah lainnya. Dewi Sartika telah melaksanakan konsep pendidikan dengan membuka sekolah yang diberi nama Sakola Kautamaan Istri ataupun Rohana Kudus jurnalis perempuan pertama yang menerbitkan surat Kabar sendiri buat mewujudkan ide-idenya. Dibanding Kartini yang hanya banyak diketahui pemikirannya lewat surat-surat korespondensi dengan teman-temannya di Eropa. Jika dikatakan dia berjasa tentu tokoh-tokoh seperti Cut Nyak Dien yang ikut memanggul senjata mengalami perjuangan yang lebih berat.

Terlepas dari pro kontra siapa yang pantas, ada satu hal yang beda ada di kartini, yaitu dia menulis dan mempublikasikan. Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman korespondensi di Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon. Dia juga banyak membaca surat kabar dan majalah. Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Membaca dan menulis, ini yang membuat Kartini dikenal dunia. Ya, menulis merupakan media terbaik untuk menuangkan apapun isi pikiran yang tak bisa tersalur dengan cara lain.

Dan sebagus apapun tulisan jika tak dipublikasikan dan dikenal dunia sia-sia saja. Hal lain yang penting diteladani adalah penguasaan bahasa, yang kala itu bahasa Belanda. Untuk sekarang Bahasa menjadi hal yang tak terelakkan lagi, bahasa Inggris menjadi bahasa Internasional. Suka atau tidak, siap maupun belum siap kita harus menyesuaikan diri dengan keadaan ini. Terlebih Indonesia bersiap menghadapi pasar bebas akhir 2015 dimana tak ada sekat antar negara, siapapun bebas berdagang maupun kerja di negara yang dia inginkan. Maka bahasa inggris menjadi kebtuhan primer.

Bagi pelajar pun bahasa Inggris menjadi wajib, tidak sedikit buku-buku penting yang ‘tak terbahas’ karena bahasa utamanya bahasa Inggris. Bagi mahasiswa, untuk mengupdate hasil penelitian terbaru pun harus menelusuri jurnal yang berbahasa Inggris, karena jurnal lokal pun beberapa diharuskan berbahasa Inggris/Arab di bagian abstraknya. Tentu ini momenum penting, 21 April bukan saja dirayakan dengan berpakaian adat masing-masing daerah, tapi lebih pada peningkatan kompetensi untuk bisa bersaing di dunia global.

Itulah yang dilakukan Kartini, dimasanya yang jauh dari tekhnologi tapi ia manfaatkan teknologi terkini dizamannya yaitu surat-menyurat. Ini pelajaran besar untuk kita siapapun, terlebih zaman global ini dimana internet bukan penghalang jarak, info apapun mudah didapat. Seorang ulama besar Imam Al- Ghazali juga mengatakan “Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka jadilah penulis”. Ini pelajaran penting yang diberikan Kartini. Pilihannya pada kita, ingin dikenal dunia atau hanya bermimpi dikenal dunia. Mari menulis dan tularkan semangatmu pada dunia.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Teladan ‘tulis, baca, dan bahasa’ dari Bunda Kartini"

Post a Comment